Senin, 17 Oktober 2011

Akhir Musim Panas


Mendung masih menyelimuti langit di sebuah desa pinggir pantai. Rintik hujan terjatuh di bumi dengan suaranya yang menjadikan khas di musim itu. Angin dingin menerpa rumah dan pepohonan. Mengalunkan ranting dedaunan pohon. Cahaya lampupun harus bergerak berlomba untuk memberi penerangan sekalipun hanya sekedar remang - remang. Memberikan manfaat kehangatan bagi setiap insan.
 Disini, tinggallah sebuah rumah berteras dengan hiasan tanaman dan pagar mengelilingi rumahnya. Kesederhanaan yang mereka tempuh selama hidupnya tak menjadikan iri kepada orang - orang yang hidup glamour di kota besar. Semangat dalam mengupayakan hidup keluarga agar tak ketimpangan kesana - kemari selalu tersimpan di benaknya. Bekerja keras adalah prinsipnya. Dan inilah keluarga Pak Dani, Pak Dani hanyalah seorang nelayan sedang istri Pak Dani, Bu Astuti mendagangkan ikan dan sayuran di pasar. Penghasilan mereka pun tak seberapa, tetapi mereka tetap bersikeras agar anak - anaknya bersekolah dan kehidupannya mampu melebihi kedua orangtuanya. Dengan hasil jerih payah dan keprihatinannya, dia bahkan tak pernah menyangka suatu ketika anak - anaknya akan menjunjung martabatnya dengan profesi anak-anak mereka.
Sepasang insan itu di karuniai 3 orang anak, anak pertama adalah Rico, dia dapat kuliah di suatu universitas negeri karena mendapatkan beasiswa dan dia juga bekerja sebagai pelukis. Kemudian Dira dan Ara, mereka adalah saudara kembar yang masih duduk di bangku SMA. Mereka berdua sangat bercita - cita menjadi penyanyi yang tenar hingga Go International.

“Inilah hujan terakhir turun di musim hujan untuk memasuki musim panas, yang akan memberikan waktu para nelayan di pinggir pantai semangat untuk melaut”, ucap ibu memecah keheningan.
“Benar bu, sehingga ayah tak perlu sibuk memikirkan kita yang hanya makan sesuap nasi. Apa masakan yang tepat untuk makan pagi sedingin ini?”, tanya Rico.
“seperti biasa, ibu hanya membuat bubur dengan lauk ikan hasil tangkapan ayahmu 2 hari lalu dan hanya kopi hangat yang tersedia”, kata ibu.
“apa kita tak akan merasakan masakan lezat selain ikan? aku bosan bu hanya itu - itu terus untuk mengisi perut”, sela Dira, yang akhir - akhir ini mengeluhkan makanan yang disantap.
“janganlah kamu mengeluh seperti itu, keadaan baru seperti sekarang ini kamu terus berpikir seakan - akan kita hidup di kota”, sahut Rico mendahului jawaban ibu.
“Iya nak, hargai usaha ayahmu yang sudah bekerja memeras keringat demi menghasilkan seiris daging untuk kita makan setiap hari”, ibu mencoba menjelaskan. “kita di beri nikmat seperti ini harus di syukuri, kita menjadi seorang harus menerima apa adanya, makanya Dira harus bersekolah yang rajin supaya kelak di masa mendatang bisa merasakan segala yang Dira inginkan”, lanjut ibu.
 “Iya Dira, dengarkan nasehat ibu baik - baik”, jawab Ara, sambil tersenyum kecil.
“Ada apa ini, sedang membicarakan ayah ya?”, sahut ayah sambil tertawa yang baru selesai mandi.
“Ayah. . .”, jawab ketiga anaknya dengan serentak.
 “Sudah, sekarang waktunya mengisi perut kita untuk melakukan aktivitas kita di hari ini dan agar kalian berdua tak terlambat sekolah”. Sahut ayah.
Mereka lalu makan bersama - sama.
Masih seperti biasa, Dira dan Ara melangkah ke sekolah untuk belajar demi sukses di masa depan, sedang Rico mengayuh sepeda tuanya kerja ke toko tukang lukis.
Sesampainya di sekolah Dira dan Ara terlihat murung karena teman-temannya sinis memandangnya. Teman - temannya tak mau berteman dengan Dira dan Ara karena mereka berdua berasal dari keluarga kurang mampu, karena itu mereka dianggap berbeda dengan temannya.
Selang beberapa menit Riko mengayuh sepeda tuanya, Riko sampai di  tempat kerjanya dan telah banyak teman yang menunggu. Waktu makan siang ia pergi keluar untuk jalan - jalan, saat itu juga, disamping kakinya ada selembar kertas yang terlihat lecek. Sebenarnya ia tak berniat untuk mengambilnya, tetapi tanpa pikir panjang ia kemudian mengambil kertas itu. Tak disangka ternyata kertas itu berisi brosur lomba melukis. Ia pun bergegas kembali menuju tempat kerjanya dengan membawa selembar kertas kusut itu.
Waktu menunjukkan pukul 3 sore ketiga bersaudara itu sampai dirumah setelah seharian menjalankan aktifitas masing - masing. Kemudian Ara mengambil gitar untuk memainkannya di depan rumah di temani Dira yang ikut mengambil bagian bernyanyi.
Waktu pun bergulir, saatnya makan malam, mereka berkumpul di ruang makan. Rico menceritakan tentang apa yang baru saja ia alami, kepada keluarganya. Keluarganya sangat mendukung agar hobi Rico dapat tertuang dengan mengikuti lomba melukis tersebut. Malam telah tiba mereka bergegas meninggalkan ruang makan untuk pergi ketempat tidur masing - masing.
Sesampainya ditempat tidur Dira tak merasa kantuk. Ia menuju halaman rumah dengan membawa secarik kertas putih tanpa noda dan bolpoin pink kesukaannya.  Ia menuliskan sebuah puisi kedalam kertas tersebut. Waktu sudah larut malam ia lalu menuju kamar untuk tidur.

Matahari telah menampakkan tubuhnya di ufuk timur. Bersiap untuk hari selanjutnya dan menyaksikan kisah kehidupan yang baru. Seberkas sinar memberikan kecerahan. Embun pagi masih menjadi teman dedaunan yang tergantung di ranting. Burung - burung bebas terbang di angkasa dengan sayapnya yang terbentang leluasa. Pohon - pohonpun ikut menari riang seiring dengan terpaan hembusan angin sepoi - sepoi. Seakan mereka saling berkomunikasi.
Keluarga itu memulai aktifitasnya. Dira dan Ara pergi ke sekolah dengan membawa alat musik karena ada pelajaran seni musik. Sesampainya di kelas guru seni  Pak Doni memasuki ruang kelas.
“ selamat pagi anak - anak”
“ selamat pagi bapak”
“ hari ini kita akan belajar seni musik. Siapa bisa memainkan  alat musik?”
Semua siswa diam tertegun karena banyak yang tak membawa alat musik. Tiba-tiba Ara mengangkat tangan.
“ saya bisa, pak” ( ia bersemangat karena sangat ingin teman-temannya tahu bahwa ia mempunyai bakat memainkan alat musik gitar)
“ alat musik apa yang bisa kamu mainkan?”
“ gitar, pak”
“baiklah, bapak berniat mengikutkan kalian yang mempunyai bakat memainkan alat musik dan bernyanyi dalam suatu lomba”
Setiap murid di kelas di tes suara oleh Pak Doni, ternyata hanya Dira lah yang mempunyai suara yang sangat menawan, walaupun dapat bermain gitar, Ara tak mempunyai suara seindah Dira.
Dengan mahir dan bersemangat Ara memainkan gitarnya bersamaan alunan lagu yang di nyanyikan Dira.
Setelah mendengarkan Dira menyanyi dengan diiringi Ara bermain gitar Pak Doni mengikutkan mereka di suatu lomba yang di adakan di sebuah studio musik. Waktu pulang sekolah pun tiba tetapi Dira dan Ara tak langsung pulang ke rumah karena akan diajak Pak Doni ke sebuah studio musik untuk ikut lomba. Acara tersebut tergolong mendadak, tetapi dengan niat di hati, mereka tak perlu latihan berlebih karena hal tersebut telah menjadi kebiasaan mereka.
Dalam waktu yang bersamaan Riko mengikuti lomba melukis di suatu ajang bergengsi. Dengan sungguh - sungguh ia mengerjakannya agar lukisannya menjadi yang paling bagus.
Tiba saatnya mereka pulang. Sesampainya di rumah mereka saling menceritakan pengalaman yang seharian dialami masing - masing.

Beberapa bulan kemudian, hari libur pun tiba.
Dira  dan Ara menuju studio musik untuk melihat pengumuman  lomba menyanyi. Ternyata mereka menjadi salah satu pemenang lomba tersebut dan mereka diminta untuk rekaman.
Hari itu juga Rico mendatangi tempat perlombaan dan ternyata lukisannya dianggap menjadi yang terbaik dan pada saat itu juga banyak orang yang memesan lukisan Rico. Semenjak itulah Riko menjadi pelukis yang handal dan terkenal sampai ke mancanegara.
Hari - hari pun berlalu, tak lain Dira dan Ara sangat bahagia karena mereka tampil perdana dengan menyanyikan lagu andalannya yang berjudul “ AKHIR MUSIM PANAS “, yang isinya menceritakan tentang perjalanan hidup yang mereka lalui hingga menjadi orang sukses di akhir - akhir musim panas ini.

“AKHIR MUSIM PANAS”

diakhir musim panas
ku berlari dipasir pantai
tuk mengejar matahari pagi

ku pandang laut
ku lihat ayah membentangkan layar perahu
ku lihat ibu menjajakan dagangan
ku lihat kakak melukis duniaku

Berjalan di antara padi menguning
Tuk sampai di sekolah tercinta
Tak mengapa, tetapi...
Itulah tetap temanku

Inilah akhir musim panasku
Riang bernyanyi di atas panggung
 petikan gitar mengiringi langkahku
bersama angin

Ku lihat kehidupan ini
Ku lihat perjalanan ini
Dan kulihat kisah ini
Bagaikan karang beradu dengan ombak

Bersama burung - burung
Ku berlari menggapai mimpiku
Terbang bersama angan

Yeah...
Inilah akhir musim panasku

Semua penonton terkesima menyaksikan penampilan mereka. Mereka bangga karena dapat menjadi artis terkenal dan dapat hidup lebih baik dari hari yang sudah berlalu.
Akhirnya keluarga ini menjadi keluarga yang bahagia karena semua anak-anaknya menjadi orang yang sukses, bakat – bakat mereka yang sekarang terbawa ke luar negari, menjadikan mereka di kelilingi job yang terus mengalir. Mereka bertiga sangat puas karena telah membuat kedua orangtuanya tak harus merasakan lagi betapa sulitnya memancing uang untuk dapat di sakukan.
Waktu pun bergulir, malam semakin larut, waktunya beristirahat.

Keesokan hari tiba, hujan pun turun dengan rintik - rintik, seakan ikut merasakan kebahagiaan yang mereka rasakan di akhir musim panas kemarin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar