Budaya luhur, tak asing lagi untuk kita dengar. Budaya luhur merupakan kebiasaan baik yang telah melekat pada pola perilaku manusia yang dalam tindakannya bahkan diluar pikiran. Sejak lama, bangsa kita ini menyandang status memiliki budaya luhur yang sangat tinggi. Dari keramah tamahannya, hingga rasa solidaritasnya yang tinggi pula. Bangsa yang seperti itulah yang patut kita banggakan.
Tetapi, entah mengapa, tatanan budaya luhur ini semakin tak karuan. Inilah para generasi muda jaman sekarang jika kita melihat, bertingkah semaunya sendiri, seakan tak ada hukum yang mengatur, bahkan mereka tak tahu apa arti budaya luhur yang sebenarnya, jikalau mereka tahu tetapi tidak tercermin pada kebiasaannya. Mereka kini mulai melupakan dan meninggalkan apa yang dimilikinya selama ini. Tak memelihara dan mempertahankan kepribadian yang elok ini tetapi malah merobohkan budaya luhur yang telah terbangun rapi. Mereka dengan rasa percaya dirinya tampil dengan egoisme dan keglamourannya, pamer dihadapan teman temannya. Keramah tamahan sesama generasi muda telah berganti dengan rasa acuh tak acuh, rasa solidaritas yang tinggi pun berubah menjadi rasa individual. Apakah perubahan yang drastis ini salah keluarga yang mendidik, teman sepergaulan atau salah pemerintah?
Budaya luhur ini apabila tak diterapkan sejak dini bagi para generasi muda, mereka akan sulit menerima dan menyesuaikan, sehingga kemungkinan mereka menolaknya secara mentah - mentah dan apabila tak sesuai prinsip dan kebiasaan kesehariannya mereka pasti akan ada yang emosinya terpancing. Karena itulah, mengapa para generasi muda sekarang ini cenderung bersikap kasar antar sesama, tak hanya itu, terlebih lagi mereka menjadi berani melawan atau bahkan menyakiti sesame, keluarga bahkan orangtua, itu benar - benar lepas dari budaya luhur bangsa ini.
Mungkin di benak kita yang tahu apa itu budaya luhur bangsa, pertama kali kita akan bertanya, mengapa generasi muda generasi penerus bangsa tega melumpuhkan budaya luhurnya sendiri? Apa yang menyebabkan mereka kehilangan budaya luhur yang telah turun menurun?
Budaya luhur, mungkin memang mudah untuk di ucapkan dan di perintahkan, tetapi nyatanya penerapan pada kehidupan sehari - hari itu yang cukup sulit di tindakan.
Begitu pula dengan sopan santun, generasi muda masa sekarang begitu sulitnya untuk di ajak menerapkan yang namanya sopan santun, padahal mereka akan mendapatkan kesopan santunan dari orang lain jika mereka mau melakukannya terlebih dahulu. Etika dalam berbicara pun sekarang tak selembut kain sutera, tutur katanya bahkan sudah tak karuan. Apakah mereka tak bisa membedakan hal yang baik dan buruk, atau mereka hanya belum puas dengan kenakalannya karena tertekan, ataukah sebelum mereka menemukan jati dirinya mereka berbuat demikian? Tidak, mereka hanya terpengaruh. Mereka salah mengambil contoh buruk budaya lain yang sudah tersaring antara yang baik dan yang buruk.
Para perempuan dan laki - laki tak bisa di bedakan lagi, bersikap keras dan berhati kasar, hidup bersama kelompok dan rela mengorbankan apapun hanya untuk di akui kelompoknya. Hingga anak perempuan berdandan layaknya lelaki, begitu pun sebaliknya. Hanya sekelumit masalah, mereka saling adu mulut bahkan sampai adu kekuatan. Begitulah, bukan budaya luhur yang meninggalkan mereka, tetapi mereka lah yang bersikeras lari dari budaya luhur. Apa yang telah terjadi? semuanya berubah, tetapi kita selalu hanya menunggu dan menunggu. Membiarkan anak - anak bangsa sendiri menderita, merusak kepribadian luhurnya, itukah langkah tepat dan pasti?
Sebenarnya bangsa ini mampu mengubah generasi penerusnya sendiri, hanya saja mereka malas dan mereka telah merasa nyaman melepaskan budaya luhur mereka. Anak - anak sekarang telah hidup dengan tata caranya sendiri, melupakan keelokan budaya mereka.
Harus mulai dari manakah kita untuk memperbaiki ini semua?
Arus globalisasi saat ini memang benar - benar berhasil memerankan perannya. Dia telah mengubah bangsa ini hingga mereka tak mengenali lagi apa itu budaya luhur. Yang ada di pikiran mereka hanyalah budaya asing yang memang asing untuk budaya kita.
Para generasi muda sekarang ini tak meningkatkan nilai agama, nilai moral, nilai kesopanan, nilai kesusilaan yang telah menancap mengiringi jalan hidupnya. Terlebih pada nilai agama, sungguh mereka termakan oleh budaya asing yang benar - benar bertentangan dengan agama. Mereka tidak tahu betul ajaran agama. Secara tidak langsung, mereka dengan teganya menginjak - injak agamanya. Mereka malah menjadikan nilai - nilai itu semua hanya sebuah pajangan yang berdebu yang tak berguna dan tak perlu di perhatikan lagi. Mereka tak mempedulikan kanan kirinya lagi, tak merasa malu dengan cemoohan orang lain. Mereka telah salah memberi artian pada ucapan ’ sudah, PeDe aja lagi ‘. Mereka memberi arti disana ke hal yang kurang baik.
Satu langkah menuju kesalahan, akan membekas dan di teruskan, itulah kata - kata yang tepat mewakili kehidupan generasi muda di waktu ini.
Selain itu, dikenal pula yang namanya jiwa semangat, tak sembarang orang memiliki jiwa semangat yang tinggi, terlebih pada bangsa ini. Semangat jiwa yang berasal dari diri pribadi ini memang penting. Sangatlah penting untuk menumbuhkan rasa optimisme dalam melakukan segala tindakan dan perbuatan. Misalnya untuk semangat kita dalam menuntut ilmu, untuk melakukan segala aktivitas ataulah semangat kita untuk menjalani kehidupan. Apabila kita tak mempunyai rasa optimisme, tak berkembanglah kita.
Berubahlah sudah semangat itu, banyaknya vasilitas yang serba praktis, menggugurkan setiap partikel jiwa semangat bekerja keras. Tak sedikit, sangat banyak diantara mereka yang kehilangan jiwa semangat. Apalagi jiwa semangat untuk mengenyam dunia pendidikan. Yang sudah terbiasa di telinga kita disebabkan hanya gara - gara masalah ekonomi, mereka harus melepaskan jiwa semangatrnya.
Telah lama pula bangsa ini menasehati dan terus mengingatkan agar generasi muda saat ini selalu membangun dan meneruskan jiwa semangatnya seperti para pejuang - pejuang bangsa ini yang terdahulu. Tetapi apa daya, ternyata menumbuhkan kembali jiwa semangat yang telah hilang dan memudar tak semudah membalikkan telapak tangan. Mereka sekarang kebanyakan hanyalah duduk- duduk manis dengan alaskan bermalas - malasan.
Seperti halnya budaya luhur, jiwa semangat kini telah ikut luntur bersamaan dengan arus alam global saat ini. Mereka sibuk dengan kenikmatan duniawi yang serba ada dan tak teratur. Untuk memiliki apa yang mereka inginkan sampai - sampai menghalalkan segala bentuk cara.
Jiwa semangat para generasi muda bangsa ini mulai meredup, mereka mulai membiarkan pribadinya menjadi seorang yang tak mau berusaha. Mereka sangat bermalas - malasan dan selalu ingin bersenang - senang dengan kelompoknya. Meluruhnya jiwa semangat sudah benar - benar menggerogoti jiwa para generasi muda, betapa tidak, kita melihat banyak generasi muda menuntut ilmu, tetapi nyatanya mereka hanya bermain - main dan tak ada usaha apapun untuk memajukan dirinya sendiri. Sungguh, bangsa ini apabila generasi muda tak memperbaiki diri, akan selalu dalam keterpurukan, akan sangat ketinggalan menghadapi bangsa - bangsa maju, dan akan sangat sulit mengangkat bangsa yang tak mendapat dukungan dari para generasi muda.
Akan jadi seperti apakah bangsa ini apabila jiwa semangat membangun bangsa telah pupus di era globalisasi ini? Padahal sangatlah penting peran serta dukungan akan generasi muda di masa - masa seperti ini. Tembok - tembok yang menjadi perisai pertahanan bangsa untuk mempertahankan jiwa semangat para remaja telah berhasil di robohkan sedikit demi sedikit. Gerak - gerik pola tingkah laku dan ucapan - ucapannya yang tak senonoh sekarang telah merasuki pikiran mereka, virus - virus keburukan muncul di otaknya. Tetapi solusi hanya solusi, sedikitpun tak berjalan dan membuahkan hasil.
Memang benar, memberi semangat kepeda para remaja yang telah terpengaruh lingkungan begitu sulit, karena mereka telah melekat pada pola tingkah laku yang kurang baik. Tetapi apa salahnya kita mencoba dan mencoba menjernihkan kembali para generasi yang telah tertutup noda - noda era globalisasi.
Sungguh memprihatinkan apabila kita merasakan generasi muda saat ini. Sangat kasihan sekali mereka harus membiarkan dirinya hidup tak berpegang teguh pada ciri bangsanya dan hanya bersenang - senang di atas kemalasan. Sekali mereka hidup dalam dunia yang penuh kemalasan, mereka pasti akan menirunya pula. Itulah, apabila mereka tak mempunyai prinsip hidup, tak mengerti arti budaya luhur, dan jiwa semangat.
Jiwa semangat para pahlawan terdahulu yang hidup dalam serba kesederhanaan dan ketidaknyamanan sungguh membara - bara untuk bekerja keras membangun saat ini, yang hidup dalam kemewahan dan ketenangan. Generasi muda kini malah banyak yang membuang isi dari jiwa semangat tersebut.
Mengapa kita tak meniru orang asing yang bekerja keras dengan jiwa semangatnya? Mengapa kita hanya meniru penyaringan buruk dari tindakan budaya asing? Bangsa kita ini bukan tempat sampah untuk segala pelarian keburukan. Mengapa yang di sorot di bangsa ini hanya para generasi muda yang bertingkah semaunya sendiri? Pemerintah telah di ambang kegagalan mengurus para penerusnya sendiri.
Mungkin sebagian para generasi muda tahu, bahwa mereka telah meninggalkan budaya luhur dan jiwa semangatnya. Tetapi karena banyak pula yang melakukan hal seperti itu, mereka tetap meneruskan tindakan salah tersebut. Lalu, siapa yang bersalah dan siapa yang perlu di salahkan?
Sebaiknya hubungan antara pelindung dan pemantau generasi muda dengan para generasi mudanya pada setiap gerak - geriknya perlu di pertimbangkan kembali. Karena apa? Karena di jaman modern dan serba canggih ini, sekali mendengar atau melihat sesuatu yang buruk, akan segera menyebar luas. Dan apabila tak ada yang mengingatkan dan memberikan nasehat yang logis dan tak ada yang menghimbau, akan terus berjalanlah hal buruk tersebut yang dapat menggerogoti jiwa semangatnya.
Yang perlu diperhatikan pula adalah mengapa para generasi muda tak kunjung menyadari bahwa mereka telah merusak bangsanya sendiri. Perbuatan yang mereka lakukan sungguh di luar batas. Bobot perilaku mereka menurun sejak mereka makin dewasa ini.
Mungkin solusi terbaik saat ini yang harus di ubah adalah memperbaiki keharmonisan tak hanya pola tingkah laku, tetapi ucapan dan gaya hidup dalam keluarga, apabila peran serta orangtua dalam mendidik kembali anaknya kearah yang positif dengan sabar, menasehati tetapi dengan ucapan - ucapan yang lembut dan jangan sampai membuat emosi. Peran pemerintah dalam menegakkan hukum - hukum dan sanksi - sanksi harus diberi ketegasan pula. Apabila para generasi muda sekarang dibiarkan dalam keadaan seperti sekarang ini, rusak sudah bangsa ini.
Apabila kita mengetahui bangsa ini dan selalu memantau kehidupan para generasi muda, mulai dari perilaku, budaya luhur kesopanan, tutur kata, cara berpakaian, dan hubungan dengan sosial, itulah generasi muda di era modern sekarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar